Hanya Kopi Tanpa Gula

Hanya Kopi Tanpa Gula


“Dia tidak pantas kau pikirkan lagi”

Aku hanya terdiam,menatap garis lurus di lantai dan berharap kehidupanku hanya lurus tak berliku seperti garis lantai, tapi sayang angan hanya akan menjadi angan. “tidak lelah memikirkannya?” Tanya Drianna lagi.

“tidakkah kamu lelah berkomentar terus?” tanyaku pada akhirnya bersuara, Drianna terpaku beberapa detik namun senyuman itu kembali menghiasi bibir merahnya. “bisa bicara juga rupanya” gumam Drianna sambil terkekeh pelan.

“aku pulang” kataku lelah, lalu bangkit berdiri namun tangan Drianna menahan lenganku. “semua masalah gak akan pernah selesai kalau kamu tidak mau mengkhadapinya”.

“aku tau,aku hanya sedang menyiapkan diri saja,kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti bukan?” tanyaku gamang, Drianna tersenyum lembut lalu melepaskan tangannya.

*****

Aku duduk termenung di pojokan kamar memikirkan apa yang harus kulakukan, aku harus bangkit tapi tidak tahu bagaimana caranya, bayangan-bayangan itu terus berada di pikiranku seolah mengundangku dalam belenggu kesakitan. Dering telfonku kembali berbunyi entah untuk yang keberapa kalinya dan nama itu masih terpampang di sana.

Brian calling..

Namun lagi-lagi aku hanya menatap layar ponsel dan menunggu sang penelpon lelah sendiri, kejadian itu masih melekat erat di pikiranku, kejadian dimana aku melihat perselingkuhan kekasihku yang dalam dua minggu ini akan berganti sebutan menjadi suamiku dengan sahabatku yang selama ini sudah kurencanakan untuk menjadi bridesmaid di pernikahanku. Awalnya aku tidak pernah percaya dengan gossip yang membicarakan tentang kedekatan mereka hingga dua hari yang lalu aku melihat sendiri dengan kedua bola mataku mereka sedang meraih kepuasan duniawi berdua di apartmen kekasihku.

Persiapan pernikahan kami tetap berjalan,orang tuaku tidak pernah tahu dengan masalah ini karena aku memilih bungkam dan memikirkan apa kelanjutan dari semua ini, persiapan yang sudah hampir matang membuat aku ragu untuk membatalkan pernikahan ini apalagi malu yang akan diterima keluargaku jika berita batalnya pernikahanku tersebar, tapi hati berkata lain, hati ini hanya ingin pergi dan lelah tersakiti.

“Rianna?” panggil ibuku dari luar sambil beberapa kali mengetuk pintu kamarku yang terkunci rapat.

“iya bu?” jawabku sambil mengusap air mata yang sepertinya tidak pernah berhenti mengalir di pipiku.

“ada Brian diluar,dia bilang mau bertemu kamu. Tolong keluar ya nak”

“bilang saja Rianna sedang tidur bu” jawabku lesuh.

“boleh ibu masuk sayang?” Tanya ibuku, aku kembali menghela nafas berat mungkin sudah saatnya untuk mengambil keputusan.

Perlahan-lahan aku membuka pintu kamarku yang dikunci,nampaklah wajah ibu yang khawatir menatapku. Sebersit perasaan iba melihat wajah ibuku, wajah wanita yang selama ini merawatku nampak begitu khawatir, aku berjalan menuju tempat tidurku lalu terduduk sambil menunduk menatap kedua kaki ku, sedangkan ibu menutup pintu kamarku seolah-olah mengerti bahwa yang akan kami bicarakan ini sangat privasi. “kamu kenapa sayang?” Tanya ibuku sambil mengangkat daguku untuk melihat matanya.

Aku tersenyum, lalu membaringkan kepalaku di pangkuan ibuku, rasanya aku benar-benar merindukan semua ini, aku rindu belaian manja ibuku pada rambutku, aku rindu kecupan sayang yang selalu ibuku berikan sebelum aku tidur. Tanpa ku sadari air mata mengalir deras di pipiku hingga isakan tangis piluku terdengar, aku tidak bisa memikirkan bagaimana hancurnya perasaan ibuku jika tahu anaknya yang selama ini disayanginya akan menikah dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab. Tapi ibuku hanya diam, dia seolah mengerti bahwa yang selama ini kubutuhkan hanyalah tempat untuk menangis dan berbagi, ibuku hanya mengelus lembut rambutku menunggu tangisanku reda karena pada saat itulah aku akan bercerita.

“apakah ayah pernah selingkuh bu?” tanyaku dengan suara sumbang habis menangis.

“tidak pernah,karena ayah menghormati dan mencintai ibu,dia tidak mungkin rela mengkhianati cinta yang selama ini kami bangun” jawab ibu lembut namun dapat kurasakan bahwa omongan lembut ibu penuh dengan keseriusan. “apakah itu yang terjadi padamu sayang?” Tanya ibuku, aku kembali duduk ke posisi semula lalu mengangguk perlahan, ku dengar helaan nafas berat dari ibuku.

“dengan Rani?” Tanya ibuku lagi, aku menatap ibuku kaget, bagaimana mungkin ibu bisa tahu. “ibu tahu dari mana?” tanyaku gelagapan. “sayang ibu bisa melihat tatapan penuh gelora nafsu dan tatapan penuh cinta dari laki-laki, dan yang selama ini ibu lihat brian menatap kamu penuh cinta namun ibu juga sadar setiap kali Rani berkunjung kerumah dia juga pasti menatap Rani penuh gelora nafsu”

“apa yang harus kulakukan bu?” tanyaku bimbang.

“bicarakan ini dengan Brian, jangan pernah lari Rianna kalau kamu lari persiapan pernikahan ini akan tetap berjalan dan pernikahan adalah hal sakral yang hanya bisa kita lakukan sekali seumur hidup maka dari itu kamu harus mengambil keputusan yang tidak akan membuat kamu menyesal,mungkin kalian bisa kembali seperti semula setelah masalah ini diselesaikan” jawab ibu bijak.

“kami tidak akan pernah kembali seperti semula bu, setelah apa yang ku lihat itu tidak akan kembali membuat kami baik-baik saja, bagaimana mungkin mereka berdua tega melakukan hubungan suami istri sementara aku adalah sahabat dan calon istri Brian” jawabku penuh amarah.

Ibu nampak terdiam sesaat seolah mempelajari apa yang telah terjadi,perlahan-lahan dapat kulihat mata lembutnya berubah menajdi aura kemarahan.

“apakah kalau ibu meminta kamu untuk membatalkan pernikahan ini kamu akan setuju sayang?” Tanya ibuku, aku menangis terisak-isak sebagian hati merasa tidak rela tapi ini memang yang harus terjadi. “bagaimana dengan ayah bu?Rianna takut ayah akan kecewa”

“justru ayah akan sangat kecewa jika menikahkan kamu dengan pria seperti dia”.

*****

Aku duduk termenung menatap bekas secangkir kopi tanpa gula yang berada di depanku, pembicaraanku dengan Rani berhasil mengguncang mentalku. Pengakuan Rani yang mengatakan bahwa mereka sudah hampir setengah tahun menjalani hubungan ini membuatku benar-benar merasa bodoh apalagi fakta baru tentang bayi yang sudah dua minggu ini dikandung Rani, Rani memang mengatakan menyesal dan meminta maaf tapi maaf tidak pernah memperbaiki hati yang telah hancur bukan?

Namun walaupun begitu Rani tetaplah sahabatku bagaimana mungkin aku tega melihat Rani yang memiliki anak tanpa ayah, tak kusangka Brian sebrengsek itu bisa-bisanya dia menolak bertanggung jawab dan malah mengejar-ngejarku.

“hai, sudah lama?” Tanya Brian yang baru saja duduk di hadapanku, tampangnya nampak kusut dan berantakan

“belum,mau pesan dulu?” tanyaku ramah yang dibalas anggukan olehnya, bagaimana mungkin aku bisa bersikap cuek dengan lelaki yang selama dua tahun ini menjadi kekasihku, walaupun mungkin sekarang tidak lagi.

“kopi susu satu, lalu mbaknya?” Tanya pelayan yang sedang mencatat pesanan Brian.

“Kopi hitam tanpa gula” jawabku, Brian melirik ke arah gelas kosong bekas kopiku tadi lalu tersenyum tipis.

“kenapa kamu tidak pernah bosan memesan kopi hitam yang pahit itu Rianna?” tanyanya sambil terkekeh seolah-olah kami dalam keadaan baik-baik saja.

“karena aku tidak pernah suka pemanis pada hal yang sudah dikodratkan pahit” jawabku yang langsung membuatnya terdiam menatapku sendu. Tatapannya terhenti ketika pelayan membawakan pesanan kami.

“aku ingin membatalkan pernikahan ini” kataku memecah keheningan.“Rianna apa kamu sudah gila?” tanyanya kesal.

“aku belum selesai bicara Brian” jawabku datar

“aku ingin membatalkan pernikahan antara kau dan aku,namun persiapan pernikahan ini akan terus berjalan tetapi bukan aku yang menjadi mempelai wanitanya tetapi Ranni”

Brian menatapku kaget, “jadilah pria yang bertanggung jawab Brian, Rani mengandung anakmu dan bertanggung jawablah atas apa yang kau lakukan,jangan jadi pria brengsek” kataku lalu bangkit dan pergi meninggalkan Brian.

Tepat ketika aku berada di luar café aku mengirim pesan ke nomer Rani. ‘menikahlah dengannya,aku tidak mungkin membalas kejahatan sahabatku sendiri, cukup kirimi saja aku tanggal baiknya maka aku akan datang untuk menjadi bridesmaid mu’

Bukankah hidup ini lucu bukan? Beberapa hari yang lalu seharusnya aku yang akan diiringi menuju altar tapi kini justru aku yang harus mengiringi sahabatku sendiri dengan mantan calon suamiku.Kehidupan ini memang lucu dan aku lebih memilih untuk menertawakan keduanya, menertawakan penderitaan dan kebahagian. Menjadi wanita kuat itu bukanlah pilihan melainkan kewajiban yang harus kita pertahankan. Dan aku lebih memillih tegar karna ku tahu kebahagian akan datang pada orang-orang yang layak untuk berbahagia.

One Reply to “Hanya Kopi Tanpa Gula”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.000webhost.com